SENDIRI DALAM KERAMAIAN

” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran : 190-191)

Apa yang menyebabkan banyak orang mendapatkan kekhusyukan pada shalat tahajud, apakah dibedakan oleh susananya atau jenis sholatnya, tentulah jawaban adalah suasana, karena tidak semua orang mempunyai kemampuan bangkit berdiri menghadap sang pencipta ketika orang lain tertidur, sendiri merengkuh ilahi di keheningan malam. jadi pertanyaan singkatnya yang menyebabkan khusyuk Allah atau suasana ? apakah tangisan orang yang sholat tahajut karena Allah atau suasana ? jika karena Allah , lalu bagaimana kondisi kita pada saat menjalankan sholat lainnya, apakah kita juga merasakan hal yang sama pastilah jika tidak mau repot memikirkan kita akan berkata singkat dua-duanya ! hal yang sama pernah terjadi pada saat setelah mengikuti dzikir berjama’ah saya sempat bertanya kepada teman “apa yang menyebabkan kita tadi menangis, dzikirnya atau suasananya ?” lalu teman menjawab singkat ” dua-duanya” lalu dia menambahkan ” kalo di bilang dzikirnya kok di rumah susah
nangis yah…tapi kalo di bilang suasannya , kayaknya gimana gitu….muna’ ….ya taulah”

Menghadirkan suasana tahajud di siang hari mempunyai sensasi tersendiri, menyendiri dalam keramaian, menyelinap dari kebisingan fikiran, luruh menengadah tanpa prasangka dan berjalan sesuai dengan kemauanNya

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)

Kita terlalu sering sibuk dengan segala prasangka apa yang dimau Allah terhadap mahluknya sampai lupa bagaimana cara menghadapNya dengan ikhlas karena cerita mengenai ke ikhlasan belakangan ini lebih sering menghiasi bibir dari pada hati, amalan Uwais Al Qarni mungkin tidak sehebat Abu Bakar, Umar, Utsman ataupun Ali , tapi gema keihklasannya dalam mengabdi kepada orang tua sampai mengetarkan langit yang membuat Rasulullah berkata kepada sahabat Umar dan Ali : “jika kalian bertemu dengannya mintalah agar di doakannya”. Dalam beramal tidak perlu orang lain tahu karena jika ridha Allah sudah datang maka tidak satupun penduduk langit dan bumi yang mampu menutupi amalan kita Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s