“Hikmah Dan Hikayah”

Iman dan Taqwa

Kidung Syair Illahi

Tuhanku..
Andai kuberharap padamu,
Apakah engkau menganggap hambamu ini sebagai pengatur kuasamu?

Dan jika aku berdoa kepadamu,

Apakah aku tak menghargai takdirmu?

Ya Allah..
Jika aku memohon kepadamu
Bukan karena aku ingin mengubah takdirku
Tapi karena aku lebih mengharap ridlomu.

Ya Allah,
Sungguhpun engkau memberikan garis yang tak kuinginkan,
Namun kuanggap itulah yang terbaik bagiku.
Meski jauh dari angan dan harapan,
Aku yakin engkau yang maha tahu.

“Kisah Cintaku”

“Mencintaimu membuatku meradang”
“Memilikimu kurasakan bimbang”

Dua kata itu selalu dipajang Cinta di dinding kamarnya. Tak ubahnya seperti sebuah foto, kata itu selalu mengingatkan Cinta tentang kisahnya dengan Zul. Dua kata yang sangat dalam maknanya dan mewakili seluruh perasaan dan jiwa dari segenap kehidupan manusia. Sungguh indah dunia ini andai kita mengutip perkataan dua insan nan jauh di sana yang selalu mengadu cinta yang diberikan rabbnya.

Cinta akhir-akhir ini berusaha menjauh dari Zul. Walaupun harus melawan arus hatinya dengan tindakan yang diperbuatnya sekarang. Konflik batin yang selama ini mendera kehidupannya, seolah membakar habis seluruh asanya untuk bangkit. Bayang-bayang nama Zahra yang menjadi tunangan Zul selalu bergelayut di benaknya. Seakan-akan bayangan itu mengatakan pada Cinta bahwa ”Tolong jauhi tunanganku”.

Seringkali sms ataupun missed call dari Zul jarang digubris oleh Cinta. “Tak baik mendekati tunangan orang”, batinnya. Dan karena itulah alasan Cinta berusaha menjauh dari Zul. Tidak ingin menyakiti hati saudaranya sendiri. Meskipun masih ada seberkas rasa dan harapan agar Zul berubah haluan kepadanya. Tapi itu sudah tidak mungkin. Akan ada hati yang sakit akibat pemutusan ikatan khitbah jika itu benar-benar terjadi.

“Zul maaf aku jarang bersamamu lagi, bukan aku tidak suka sikapmu namun aku ingin sedikit menjauh darimu. Agar kamu lebih dekat dengan tunanganmu itu dan teman-teman tidak mengguraui kita lagi.”
Kata-kata itu dicatat dalam sebuah diary nya yang bersampul hijau bergambar bunga-bunga.

Berhari-hari seolah-olah Cinta mencampakkan Zul seperti bukan teman sendiri. Selain untuk memberikan semacam lecutan agar Zul lebih mendekati Zahra juga untuk menghilangkan perasaan Cinta terhadap Zul. Tapi sungguh perasaan itu tidak bisa sirna. Sikap Cinta yang seperti itu malah membuatnya semakin berontak dan bertambah semakin tak bisa melupakan bayangan Zul.

“Ya Allah, kenapa perasaanku tak bisa hilang seperti ini. Kenapa perasaan ini tidak juga aus dikekang waktumu? Padahal hambamu yang dloif ini hanya ingin menghilangkan memory tentang Zul. Aku tak ingin melukai perasaan Zahra. Tapi aku tak bisa ya Allah. Aku sudah berusaha semampuku tapi aku tak kuat menahan perasaan ini. Sungguh seandainya Zul bukan jodohku maka jauhkanlah dan jika memang jodohku maka … (Cinta tidak melanjutkan doanya karena teringat Zul adalah tunangan dari Zahra). Ah, aku bingung harus bagaimana.”

Zulfikar Ahmad, selama ini sibuk mencari keberadaan Cinta. Bagaimana tidak? Teman paling akrabnya kini tiba-tiba saja menghilang seolah ditelan peradaban. Bahkan pesan pendek dan telepon pun jarang dibalas oleh Cinta. Wajar saja seorang sahabat yang setiap kali Olimpiade Akuntansi ditenteng kemana-mana tidak ada kabar keberadaannya. Terlebih setelah mereka bersama-sama menyelesaikan Skripsi tugas akhir. Tak ada kabar, tak ada informasi tentang Cinta.

“Cinta kamu dimana? Kamu marah sama aku? Ataukah ada sikapku yang menyakiti hatimu?” kata-kata itu muncul di telepon seluler Cinta. -From Zul- di kata-kata paling akhir tertera nama itu.
Cinta tak kuat untuk tidak meneteskan air mata namun masih bisa ditahan untuk sementara. Rasa berat hati masih terhempas di dadanya. Di elus dadanya berkali-kali agar sabar dan tabah terhadap perasaan yang selama ini dipendamnya.

“Cinta, tolong jawab sms ku ini. Kami semua rindu padamu. Kami mengkhawatirkanmu Cin. Oke kalau kamu tidak mau membalas smsku ini. Besok ada syukuran dariku. Rencananya Ismy, Ilham, dan Lala akan datang di “Obonk Steak” Bintaro. Silakan datang, Aku mengundangmu. Ada sesuatu yang penting yang akan kita bicarakan berlima. Terserah jika kau ingin memutuskan tali silaturahmi persahabatan kita. Kutunggu.” –Zulfikar Ahmad-

“Assalamualaikum”, kata-kata itu mengejutkan Zul, Ismy, Lala dan Ilham. Sontak mereka mengucapkan “Wa’alaikumussalam”. Mereka terkejut dengan kedatangan sosok yang anggun dengan berbalut busana penuh pesona.

“Cinta?”, Zul terperanjat melihat kedatangan Cinta semakin merona dengan balutan busananya. “Subhanallah, kemana saja kamu selama ini. Kami mengkhawatirkan kamu”, Kata Zul sambil mempersilakan Cinta duduk disamping Ismy dan Lala.

“Alhamdulilah aku baik-baik saja. Selama ini memang aku sedikit menjauh darimu Zul:, ucap Cinta sambil melirik Zul dengan malu-malu. “Aku tidak ingin merusak ikatanmu dengan Zahra.”
Zul menghela nafas. Dia tidak menyangka Cinta rela melakukan hal sedemikian terhadap persahabatan mereka demi ikatan Zul dengan Zahra.
“Apakah kamu tidak tahu Cin, kabar hubunganku dengan Zahra”, kata Zul.
“Kabar apa? Bukankah kalian sudah bertunangan?”
“Ya kami memang bertunangan, tapi aku memutuskan tali ikatan itu.”
Cinta terperanjat mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Zul. “Hah? Apakah kamu tidak takut menyakiti perasaan Zahra Zul? Kamu akan di cap sebagai lelaki tak punya perasaan dan tak punya prinsip. Kenapa kau lakukan senekat itu?”

“Bukan keputusanku sebenarnya. Tapi keputusan adat yang telah memisahkan ikatanku terhadap Zahra. Sebenarnya aku dan Zahra masih ada hubungan saudara dari ibuku. Namun aku tidak tahu kalau Zahra itu adalah masih saudaraku. Ibuku tak pernah cerita memiliki saudara seperti ibunya Zahra. Hal ini langsung diketahui ketika ada pertemuan dua keluarga. Karena saat mengkhitbah dulu aku tanpa didampingi kedua orang tuaku. Jadi mereka sama-sama tidak mengetahui kalau aku dan Zahra masih bersaudara.” ungkap Zul.

“Karena itu aku mengundang kelompok kita saat Olimpiade sekaligus kamu untuk melaksanakan syukuran”
“Syukuran? Atas batalnya khitbahmu?” Lala memotong pembica raan Zul.
“Ya, setiap hal harus kita syukuri meskipun itu pahit buat kita. Dan yang paling penting lagi cincin yang dikembalikan oleh Zahra akan kuberikan pada Cinta”, kata Zul.
“Maksudmu?”, Cinta berbicara dengan keheran-heranan.
“Aku mengkhitbahmu Cinta. Di hadapan ketiga teman kita. Aku berikan cincin khitbah ini kepadamu. Sekian lama aku memendam perasaanku padamu karena terbelenggu ikatan khitbah Zahra. Dan kini aku terbebas. Dari hatiku yang paling dalam kuungkapkan padamu, I LOVE YOU, CINTA.”

Serasa ditampar oleh petir Cinta mendengar suara itu. “Aku dikhitbah Zul?”, hatinya bertanya-tanya. Pipinya yang manis berubah merah merona. Lesungnya yang imut kini menjadi sangat lembut. Wajahnya menunduk dengan senyuman kecil yang ditutupinya. Malu, rasa cinta, dan bahagia bercampur aduk menjadi satu. Dan pada saat itu Cinta menjadi salah satu sosok wanita yang hatinya berbunga-bunga.

Anjing !!!

“Pak RT, ini gak bisa dibiarin begitu saja pak. Kalau tetep dibiarkan, masyarakat akan dibuat bingung dan linglung. Bayangin saja, masak ustad pelihara Anjing? Padahal anjing adalah hewan najis menurut agama,” kata warga bernama Andrew kepada pak RT.

“Benar pak RT, kenapa harus anjing yang dipelihara? Kenapa tidak kambing saja, kan bisa disembelih pas Idul Adha. Dia ini ustad sableng atau gak ngerti agama? Anjing kok dipelihara, di kampung kita lagi. Kalau pak RT gak bertindak, warga yang bertindak,” tambah Ishak menerangkan.

“Sebentar dulu, jangan asal menuduh pak ustad Subhan yang tidak-tidak. Mungkin itu anjing yang sekedar lewat atau anjing desa tetangga yang mampir ke rumahnya. Kalian jangan asal maen sruduk. Kita tanya dahulu baru diputuskan,” kata pak RT dengan bijak.

“Pak RT ini gimana sih? Orang kita banyak yang lihat dengan mata kepala sendiri kok, Ustad geblek itu menggendong Anjing pakai surbannya. Saya saksinya, kemarin pagi saya lihat dia membawa anjing sialan itu ke rumahnya. Saya masih waras pak!” umpat penjual sayuran bernama Husni dengan nada kesal.
“Ini sudah keterlaluan pak. Baru kali ini seorang imam masjid di desa kita berbuat seperti itu. Kemarin siang saya juga lewat di depan rumahnya dan saya melihat ustad itu mengelus anjing. Malah saya sempat ngobrol dengan dia. Katanya anjing itu cantik. Dia sudah tidak waras pak! Kita harus mengeluarkan dia dari daftar imam masjid dan khotib sholat jum’at mulai sekarang. Saya takut kata-katanya tidak didengarkan warga yang mulai tidak percaya kepadanya,” ungkap penjual susu bernama Azra.

Suasana di rumah pak RT mulai panas sore itu. Beberapa orang yang memenuhi rumah pak RT untuk melaporkan kelakuan ustad Subhan yang aneh akhir-akhir ini di antaranya adalah jamaah masjid Al Abror. Mereka tidak mau sholat di imami oleh ustad Subhan, pemelihara hewan najis bernama Anjing. Terlebih, rumah ustad Subhan itu tepat di samping masjid. Yang mereka khawatirkan juga seandainya anjing itu berkeliaran di masjid.

“Saya setuju dengan ucapan kang Azra pak,” kata Mamat. Bagaimana kalau anjing itu masuk ke masjid dan menjilati seluruh bagian masjid. Najis semua bagian-bagian masjid. Dan tidak sah sholat jamaah di masjid kita. Apa kita mau mengepel seluruh masjid dengan tanah? Gak lucu pak. Apa jadinya kampung ini kalau itu menjadi kenyataan? Mending saya pindah kost-kostan saja pak atau malah pulang kampung. Daripada sholat saya tidak sah?

“Begini saja pak, meski saya awam di bidang agama tapi saya masih mencintai Islam sebagai agama saya. Kalau saya boleh usul, mumpung masih sore kita datangi saja rumah pak ustad. Mungkin sudah di rumah sekarang, setelah zikiran di masjid. Dengan begitu kita tidak main tuduh saja. Kalau emang benar, kita buang anjing itu atau suruh pak ustad pindah rumah jika tetap ingin memelihara anjing,” Seorang tukang reparasi komputer bernama Haky tiba-tiba menerangkan dengan kata yang indah sekali.
Semua orang yang ada di rumah pak RT diam sejenak. Beberapa di antara mereka seolah-olah berlagak sedang berpIkir. Pak Andrew dan Kang Husni tampak mangut-mangut seraya menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah perlahan. Suasana panas saat itu berubah menjadi hening setelah ucapan bijak dari Mas Haky. Meskipun hanya bekerja sebagai tukang reparasi komputer tapi dia sangat perhatian dengan masalah agama.

Keheningan itu seketika menjadi cair seiring kedatangan bu RT dengan membawa sebuah nampan.
“Silakan minum dulu bapak-bapak, ini ada teh seadanya saja. Ini juga tadi baru nggoreng pisang sama Lastri di belakang. Monggo pak, selagi masih anget,” tawar bu RT.
“Suwun bu, kok malah ngrepoti. Alhamdulilah,” kata Pak Rizky sambil mengambil segelas teh dan pisang goreng anget.
“Bu RT memang mantap”, celetuk Pakdhe Anggit.
“Monggo pak dinikmati dulu”, kata pak RT. “Setelah ini kita langsung saja ke rumahnya ustad Subhan, mumpung masih sore. Tapi harapan saya bapak-bapak tidak emosi dulu sebelum ustad menjelaskan kepada kita.
“Insya Allah pak”, Pakdhe Anggit menyahut.
Beberapa orang mangut-mangut tanda setuju akan rencana pak RT seraya menikmati pisang goreng dan segelas teh.

Setelah beberapa lama mereka menikmati hidangan dari bu RT, Kang Husni dan Pak Andrew sudah tidak sabar melabrak ke rumah ustad Subhan tentang anjing peliharaannya. Sementar itu setelah menikmati beberapa hidangan pendinginan, warga dan pak RT bergegas mendatangi rumah ustad Subhan. Tampak ustad Subhan baru saja memasuki halaman rumahnya yang berdampingan dengan masjid. Sesekali menengok sebuah kotak yang berada di depan rumahnya.

“Assalamualaikum ustad”, sapa pak RT.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Wah tumben nih pada silaturahmi ke sini. Mari-mari pak, sebagian di luar saja ya pak rumah saya dalamnya sempit”, spontan jawab ustad Subhan sambil tersenyum manis.
“Wah tidak apa-apa pak, di sini saja sambil berdiri”, jawab pak RT. Tampak Kang Husni menyenggolkan bahunya pada pak RT tanda supaya cepat-cepat melanjutkan topik permasalahan.
“Begini pak, tentang keresahan warga yang di adukan pada saya. Sebelumnya mohon maaf, warga tidak setuju kalo pak ustad memelihara anjing”, tukas pak RT.
Ustad Subhan seketika itu juga mengrenyitkan dahi tanda keheranan. “Pelihara Anjing? Saya tidak mengerti maksud bapak. Anjing siapa ya?” tanya pak ustad.
“Sudahlah pak, jangan mengalihkan pembahasan. Anjing hewan najis itu. Saya melihat dengan mata kepala sendiri kalau bapak menggendongnya pagi-pagi kemarin dengan surban ustad”, sambung Kang Husni.

“Ooo…, Si Bleki ya”, jawab pak ustad sambil tersenyum sambil berjalan ke arah kotak yang di taruh di bawah kursi depan rumah. Perlahan pak ustad membawa kardus itu ke kerumunan warga dan secara langsung membuka kotak itu untuk diperlihatkan pada warga.
“Ini namanya Bleki. Lucu kan bapak-bapak?”, tampak seekor anjing dengan warna hitam berbulu agak kusut. Kusut karena bekas darah yang mengalir dari tubuhnya kemain terlanjur kering. Matanya sudah tampak layu karena kelopak matanya sudah barang tertentu berat untuk dibuka. Dua kaki depan dan satu kaki belakang tak bisa digerakkan karena sudah patah. Namun dilihat dari body-nya memang atletis sekali. Tapi sayang sekarang cacat.”

Tiba-tiba saja sebuah tangan dengan sangat keras mengayun ke arah kardus itu. “Brak!” kardus itu terlempar hingga ke atas pagar ustad Subhan. Anjing dan kardus itu terpisah oleh lancipnya kerIkil batu di halaman ustad Subhan. Sebuah benda hitam terlihat bergerak-gerak di atas kerIkil-kerIkil tajam di halaman ustad Subhan.
“Kiiik…Kiiik…Kiiik…!!!”, terdengar suara rintihan anjing berwarna hitam itu.
“Masya Allah Kang Husni, apa yang akang lakukan?” tanya pak ustad seraya berlari kecil menghampiri anjing yang tergelapar itu. Tangan pak ustad secara spontan menyelamatkan anjing kecil itu dari ganasnya kerIkil-kerIkil yang runcing ujungnya itu. Tampak tubuh anjing itu lemah sekali dan napasnya terlihat berat.
“Lihat ini pak anjing ini saya rasa akan mati. Bapak-bapak di sini puas kan?” kata ustad Subhan dengan nada agak kesal.
“Bapak-bapak ini memang tidak punya rasa belas kasihan. Biar bagaimanapun anjing ini berhak untuk hidup pak. Sama seperti bapak-bapak di sini.”
“Tapi anjing ini barang najis pak. Tidak berhak hidup di kampung kita. Dekat masjid lagi”, kata Pak Andrew menerangkan.

“Meskipun najis anjing ini tetap ciptaan Allah. Anjing ini adalah makhluk Allah. Allah menyayangi semua makhluknya. Walaupun anjing ini najis, apakah sudah barang tentu bapak-bapak di sini tidak merasakan kehinaan di hadapan tuhan. Memang anjing ini sudah di plot menjadi makhluk najis, tapi bukan berarti anjing ini akan masuk neraka. Anjing ini tidak berakal, tempatnya ditengah-tengah antara surga dan neraka. Sudah barang tentu anjing ini meski najis dan berdosa banyak, tempatnya sudah jelas. Sedangkan bapak-bapak di sini? Sekecil dosa kalian akan terlihat. Dan siapa tahu di antara kita lebih hina dari pada anjing yang sekarat ini.” Kata pak ustad dengan geramnya.
Pak RT terlihat mengucapkan astaghfirulloh dengan lirih. Begitu juga dengan bapak-bapak yang lain yang ada di tempat itu. Kelihatannya mereka menyadari kesalahan yang merendahkan martabat makhluk allah meskipun sangat jelas sudah najis. Mereka seolah meninggikan derajat mereka sendiri tanpa memandang filosofi kehidupan.

“Asal bapak-bapak tahu saja. Saya mendapatkan anjing ini tidak dengan membeli atau bermaksud memelihara. Tapi bapak perlu ketahui, dua hari yang lalu pemuda-pemuda dari kawasan dekat warungnya Pak Wawan menabrak anjing ini dengan motor mereka. Dan saya rasa mereka mabuk-mabukan melakukan hal ini. Salah satunya adalah putra dari Kang Husni, mohon maaf kalau vulgar. Saya tidak tahu harus berbicara apalagi. Yang pasti ini kejadian pertama kali di kampung kita. Pemuda kita sudah berani melanggar aturan kampung dan aturan agama kita. Bukankah ini yang harus ditindak lebih dahulu dibandingkan dengan masalah anjing? Dan anjing inilah korban-korban mereka. Anjing ini saya temukan ketika saya berjalan-jalan di tengah gerimis. Anjing ini berlumur darah karena korban biadab pemuda kampung kita yang tidak seronoh itu. Anjing ini mati karena mereka ngebut di jalanan sambil mabuk. Dan sekarang saya yakin, bapak-bapak di sini puas kalau anjing ini mati!” tegas pak ustad.

Seluruh bapak-bapak yang ada di rumah pak ustad sontak diam. Mereka tertunduk malu karena sudah berpIkiran negatif terhadap apa yang dilakukan oleh pak ustad. Terlebih Kang Husni, yang anaknya juga terseret dalam omongannya pak ustad tadi. Wajahnya begitu merah, malu karena amarah dan perbuatan anaknya sendiri.

Sedangkan Pak RT dan bapak-bapak yang lainnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah mendengar ucapan pak ustad. Mereka hanya bisa diam dan berdiri tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya.

-Sweet Home-
(Terkadang kita hanya berpikir sepihak tentang suatu keadaan yang belum tentu maksud dan tujuan meskipun itu sangat dilarang sekalipun)

Tanpa Satu Bintang

Memandang langit tak harus menatap bintang
Gulita malam yang terbayang tak ada rembulan
Bahkan sinarnya sekalipun tak tampak
Hanya saja aku tersudut pada satu ruang
Satu bintang yang kuimpikan

Bintang,
Yang selama ini kudambakan
Tak pernah tahu betapa aku menginginkanmu
Satu bintang yang tak pernah bosan
Tuk kutunggu jawaban dari harapan
Bintang yang satu itu buatku lupa waktu
Bintang,
Kuharap kau mengerti perasaan hatiku

Jika bulan di sampingmu, kau tak bersinar
Dan kuharap anggapanku tak selalu benar
Buatmu…
Tapi satu bintangku kini
Mengoyak hatiku
Tak kan pernah tahu perasaan ini
Melukaiku setega sembilu
Terluka berhari-hari

Mungkin sudah takdir malamku tak dihiasi bintang itu
Lenyaplah sudah bersama gelap
Sibuk sendiri dengan sinarmu
Seakan tak ingin sedihku terucap
Aku masih berharap kemilau darimu
Dan itulah yang selalu kutunggu

Bingkisan Cinta

“Assalamualaikum ukhti”
Kata-kata itu muncul lagi di layar handphone pemilik nama Cinta Nurunnisa. Kalau dihitung-hitung, sudah sembilan kali Cinta membuka message dengan isi yang sama. From ‘Siapakah Kamu?’. Begitulah Cinta memberi nama nomor handphone yang tidak dikenalnya sejak seminggu sebelum puasa Ramadhan. Padahal saat ini puasa Ramadhan menginjakkan harinya di malam lima belas.

Tak ubahnya seekor cacing yang menggeliat di terik matahari, Cinta selalu membalas sms yang sama dengan kata-kata, “Afwan. Siapakah antum?” Cinta penasaran siapakah yang mengirim sms kepadanya sebanyak sembilan kali dengan kata-kata yang sama. Dan naas, sms balasan dari Cinta tak dibalas sama sekali. Hanya penantian lama yang didapatkannya.

Tak pelak dua minggu terakhir mulai dari awal puasa Cinta menanyakan kepada teman-temannya apakah mempunyai nomor yang selalu mengirimi sms serupa. Tapi tak satupun dari teman-temannya yang tahu siapakah pemilik nomor “teroris” itu.
“Fans antum kali Cin”, kata Maya sambil mengeledek.
“Iya Cin, mungkin orang yang suka sama kamu. Bisa teman SMA dulu, kuliah, atau teman-teman kita sekarang”, kata Reva seraya tersenyum manis.
“Wah gak tahu aku itu. Aku belum sempat mikir ke situ dulu. Mungkin orang iseng kali ya?” Cinta menghibur dirinya.
“Gak mungkin Cin. Masak orang iseng ngirim sms pake salam segala. Berarti ada sesuatu yang ingin diutarakan tapi orangnya pemalu”, Maya mengeledek lagi sambil cekikikan.
“Huss, kamu bercanda terus sih May. Orang temen lagi susah diledekkin. Lupain aja deh, ntar juga capek sendiri dia”, tukas Cinta.
“Susah kalau sedang disenangi seseorang nih ye…”, Maya mengeledek lagi.

“Assalamualaikum ukhti”, dipandangnya isi sembilan sms itu bergantian. Tak ada yang berubah. Kata-katanya sama persis. Terdiri dua kata dan ada tanda kutipnya di awal dan di akhir kata. Wajar saja Cinta penasaran dengan isi sembilan sms itu karena sebelumnya sama sekali belum pernah mendapatkan teror semanis itu. Ingin melupakan sms itu, semakin lama semakin ingin dilihat terus. Aneh, untuk sms yang satu ini mungkin Cinta hanya bisa memandanginya dengan tersenyum dan mengucapkan “Siapakah kamu?”

Sampai malam kelima belas Ramadhan, Cinta pun belum tahu pemilik nomer “teroris” tersebut. Belakangan dia mulai mengabaikan isi sms senada yang masuk ke handphonenya. Kesal rasanya kalau diteror terus menerus tanpa tahu siapakah pengirim message yang selalu membuat hatinya berantakan. Ingin menerka dan menebak, takut salah. Ingin memvonis seseorang takut tidak percaya diri. Lagi-lagi Cinta hanya bisa mengucapkan “Siapakah kamu?” dan mulai mengabaikan sms yang terakhir itu.

Hari ini tepat malam ke tujuh belas bulan Ramadhan. Tepat hari itu juga 14 abad yang lalu Al-quran diturunkan kepada Rasulallah. Hari-hari ini selalu diisi Cinta dengan memperbanyak amalan-amalan terutama membaca al-quran. Di tengah-tengah kesibukannya membaca Al-quran, tiba-tiba handphonenya bergetar. Getaran itu membuyarkan konsentrasi Cinta. Setelah berapa lama membaca Al-quran, Cinta mengambil handphone dan membuka isi sms itu.

Tak seindah kurasakan di Nuzul Qur’an
Indahnya hati mengharapkan
Cinta dan kasih
Bersatu
Dalam Kalbu
Menyatukan Cinta dan Aura
Sungguh hati ini terpaku
Oleh Akhlakmu

Kenangan yang lalu itu
Semoga menjadi jalan
Membuka lembaran baru
Di setiap kemenangan

Cinta semakin merasakan keanehan. Siapakah seseorang misterius itu? Perasaannya pun semakin menjadi. Antara berbunga-bunga karena puisi dan penasaran karena hati. Ditatapnya sms itu dalam-dalam. Dihembuskan nafasnya perlahan. “Siapakah kamu?” gumamnya.

Berhari-hari sms itu membekas di benak Cinta. Hingga pada suatu malam setelah melaksanakan sholat tarawih seseorang bertamu di Rumahnya.
“Cinta, ambilkan air minum buat tamu kita. Coba lihat siapakah yang tamu kita malam ini”, teriak Abah kepada Cinta.
“Tamu? Emang siapa Abah?” balas cinta sambil bergegas menuju dapur.

Tak lama kemudian Cinta keluar dari dapur menuju ke ruang tamu dengan membawa secangkir teh hangat. Dilihatnya siapakah tamu itu. Wajah yang tak asing untuk Cinta. Ya, teman sekolah SMA dan sesama anggota Rohis waktu SMA. Ahmad Ramadhani, seseorang yang aktif di Rohis SMA saat bersamanya dulu.

“Assalamualaikum, bagaimana kabar”, kata Cinta kepada Rama sambil melempar senyum.
“Waalaikumsalam, Alhamdulilah baik dan sehat”, jawab Rama.
Kemudian Cinta kembali ke belakang untuk mengembalikan nampan yang dibawanya.
“Ada apa nak, kok tumben datang ke sini malam-malam. Bagaimana kabar abi dan umimu?” tanya abah Cinta kepada Rama.
“Alhamdulilah sehat bah, abi dan umi di rumah juga sehat.”
“Ow ya kuliahmu gimana? Kata Abimu mau rencana neruskan di Australia ya?”
“Kuliah saya tinggal menunggu sidang hasil Skripsi saja. Kalau kuliah di Australia insya Allah setelah lulus skripsi ini Bah. Doanya saja dari Abah.” Jawab Rama.
“Ya Abah selalu mendoakan pemuda yang selalu gigih menuntut ilmu. Insya Allah.” Tukas Abah Cinta.

“Begini Bah, mungkin kedatangan saya di sini…” (Rama diam sejenak, tidak melanjutkan pembicaraannya)
“Kok diem nak, jangan malu-malu sama abah. Ngomong saja blak-blakan, kalau ada perlu selama abah bisa bantu insya allah dibantu.”
“Kedatangan saya di dini sebenarnya ingin mempererat silaturahmi bah.”
“Lho, jelas tentu dong. Kamu kan jarang-jarang main ke rumah Cinta. Kalian akrab sekali pas sewaktu SMA. Kamu main ke sini pun abah sudah senang.”
“Maksud saya bukan silaturahmi biasa bah. Tapi ini terkait dengan Cinta.”

Abah Cinta mengrenyitkan dahi tanda keheranan. Cinta yang sejak tadi bergumul dengan asap kompor di dapur terperanjat. “Terkait denganku?” gumamnya. “Aku kan sudah lama tidak berhubungan dengan Rama semenjak lulus SMA. Apakah aku punya hutang? Atau aku punya salah yang membuatnya sakit hati hingga sekarang?” lanjutnya.

Seolah Cinta mendekatkan telinganya ke daun pintu agar bisa mendengar lebih jelas. Dia bertanya-tanya dalam hati dan penasaran dengan ucapan Rama.
“Lha maksud nak Rama bagaimanaa. Cinta punya hutang sama Rama ya, atau pernah menyakiti hati nak Rama?” kata abah Cinta.
“Bukan bah, malah saya yang punya hutang sama Cinta.”
“Lho, maksud nak Rama hutang uang begitu ya?”
“Bukan bah, saya punya hutang khitbah pada Cinta.”
“Wah-wah, abah kok tambah bingung. Ndak ngerti maksudnya nak Rama.”

Cinta yang dari tadi berada di dekat pintu pemisah ruang tamu dan ruang dapur semakin penasaran. “Hutang khitbah? Maksudnya apaan sih?” tanyanya dalam hati.
Rama mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Tampak dia membawa sebuah kotak kecil berwarna merah di tangannya. Dilihatnya sesaat, kemudian dibukanya secara perlahan.
“Cincin ini bingkisan dari saya untuk Cinta bah”, kata Rama kepada abah sambil menyodorkan kotak kecil kepada abah.
“Sebentar-sebentar. Nak Rama ingin mengkhitbah cinta maksudnya?” tanya abah Cinta penasaran.
“Insya Allah Ta’ala, saya sudah istikoroh bah. Mungkin Cinta lah yang dipilihkan allah untuk saya.”

Abah Cinta menatap cincin dalam kotak itu lekat-lekat. Kemudian menatap wajah Rama dengan seksama. Akhirnya Abah Cinta menghela nafas untuk menyegarkan perasaan. Cinta yang sedari tadi menguping pembicaraan abahnya dan Rama seolah tak percaya dengan perkataan Rama. Selama di Rohis SMA, Rama pun tak pernah menunjukkan tanda-tanda suka pada Cinta. Namun Cinta pernah sekali merasa senang dan bangga mempunyai teman seperti Rama. Saat itu Cinta terpesona dengan akhlak dan tutur kata Rama ketika sedang memimpin debat kepedulian siswa antar sekolah. Sejak saat itu Cinta selalu mengagumi akhlak dan tutur kata Rama yang sangat indah itu.

“Subhanallah, Sebenarnya abah tidak berhak memutuskan sendiri masa depan Cinta. Abah sudah tahu bagaimana akhlak nak Rama. Tapi semuanya tergantung dengan Cinta.”
“Saya siap menunggu jawaban Cinta bah. Insya allah hati saya sudah mantap memilih Cinta. Cinta bisa berpikir dulu sebelum memutuskan. Biar bagaimanapun ini terkait masa depan Cinta. Dan saya hanya bisa menunggu bah. Masalah cincin ini sebenarnya bingkisan saya yang kedua bah. Bingkisan pertama saya adalah kata-kata silaturrahim lewat SMS kepada cinta”, kata Rama dengan tersipu malu.

“Hmmh, nanti biar abah sampaikan kepada Cinta tentang bingkisan SMS nak Rama itu. Untuk sementara ini abah juga hanya bisa menunggu jawaban Cinta atas khitbah nak Rama. Kalau memang sama-sama suka, insya allah abah meridloi kalian. Tapi tetap abah akan menanti jawaban dari Cinta.”
“Iya bah. Matur nuwun. Mungkin Cinta juga butuh berpikir beberapa hari untuk masalah ini. Untuk selanjutnya saya hanya meminta do’a abah.”
“Iya nak Rama.”
“Kalau begitu cukup sekian saja bah. Kemungkinan beberapa hari ke depan saya akan akan silaturahmi ke sini lagi”, kata Rama sambil berpamitan pada abah Cinta.

Sejak saat itu hati Rama selalu berharap dengan penuh penantian atas jawaban Cinta. Sedangkan Cinta tak percaya dia mendapatkan dua bingkisan sekaligus. Dan kedua bingkisan itu seolah menekan pikiran dan hatinya apakah khitbah itu diterima atau tidak. Akhirnya hanya waktu yang bisa menjawab penantian mereka berdua. Penantian tentang Cinta.

Bercinta di Padang Pasir

Bulir debu di padang pasir
Mengusik hembus angin semilir
Bercanda di antara kesunyian
Hanya tampak horison yang membentang

Benih-benih cinta kini mulai tumbuh
Menengadah melawan matahari
Hati yang lama telah rapuh
Berhaluan menyusup nadi

Rabb…
Di manakah engkau
Apakah engkau tega membiarkan pasir tersembur angin
Goresan cinta penuh warna
Tak akan menutup luka
Kerinduanku kepadamu

Kegalauan seorang pecinta layaknya bulir pasir diterpa angin.

Cantikmu di balik Kerudungmu…

Apa yang kurasakan saat ini sungguh mengharu biru dalam hati
Betapa tidak? Sungguh terasa aroma kecantikanmu dari sisi Jakarta
Meski engkau nan jauh disana, tapi aku bisa merasakan dengan mata batinku
Tak bisa kuelakkan lagi betapa dirimu menguatkan diriku

Aku tak bisa membalas apa-apa senyum merekah yang telah engkau berikan kepadaku
Kecupan kening tatkala hatiku lemah, dulu
Lambaian tangan tatkala mengiringiku dalam rombongan ke perantauan
Terima kasih air mata yang engkau teteskan tatkala sholat malam
Dan masih teringat dalam benakku tatkala hatimu bergumam
“I Love You”
Aku bisa merasakannya…

Cantik,
Terhijab oleh warna kain yang lembut di jemariku
Kerudungmu menutup keanggunan akhlakmu
Ohh..
Bagaimana aku menggambarkan kecantikanmu di balik kerudungmu?
Aku tak bisa…
Aku hanya bisa membuatmu bangga
Ibu,

Aku Ingin…

Aku Ingin
Terbang melewati rembulan
Melangkah dan melompat di antara bintang
Menguasai Langit

Orang-orang kan terpaku karena aku
Aku bisa terbang seperti burung
Mengepakkan sayap indah
Tak seperti manusia biasa

Aku ingin
Berjalan tak menginjak bumi
Namun lebih dari berdiri di atas air
Untuk menunjukkan kekuatan hakiki

Kutunjukkan kehebatan
Layaknya seekor ikan
Menguasai penjuru lautan
Hanya dengan berenang

Namun, bukan itu yang aku ingin
Terbang di angkasa
Atau berjalan menguasai lautan
Andai begitu
Aku tak ubahnya burung
Dan hanya seperti ikan yang lucu

Apakah aku ingin menjadi binatang?
Manusia sudah sempurna
Dan yang aku ingin hanyalah takwa
Andai bisa mengikuti
Itu akhlak nabi

Aku ingin
Seperti nabi
Bukan seperti burung atau ikan
Yang hidup di langit dan lautan
Namun lebih meniru nabi
Dengan akhlak dan ilmu hati

Aku ini bukan binatang
Aku hanyalah manusia yang butuh keridloan
Bukan kehebatan yang meniru binatang
Tapi akhlak yang membimbing dalam kebenaran

(Terkadang kita ingin menjadi manusia yang berbeda dan mempunyai kekuatan lebih seperti terbang dan berjalan di atas air. Namun pada hakikatnya kekuatan-kekauatan itu adalah milik seekor binatang bernama burung dan ikan. Andai itu terjadi tak ubahnya kita seorang yang hanya bisa terpaku dunia dengan kekuatan binatang. Kita ingin meniru sesuatu yang lebih rendah derajatnya dari manusia. Lantas apakah tidak ingin meniru sifat Nabi?)

Malam yang Indah bersama Bidadari

Kurasakan hembusan angin malam begitu sejuk menembus dada ini. Semilirnya memberikan aku sebuah semangat untuk menyegarkan perasan. Hati yang telah lama rindu akan kasih sayang membuncah kembali dalam suasana. Aku ingin membisikkan sesuatu kepada angin tentang kehangatan malam. Supaya angin bisa menemaniku dalam senangnya jiwaku.

Malam itu benar-benar malam yang indah. Bintang kejora terlihat elok dengan berkedip mengelilingi bulan. Terlebih cahaya bulan purnama yang menghiasi warna malam menjadikan suasana gelap berubah riang. Tak ubahnya hatiku, selalu ingin mengadu pada pujaan yang selama ini kutunggu-tunggu. Manis rasanya, bahkan tak bisa kurangkai kata untuk menggambarkannya. Aku sangat senang, sungguh senang. Bagaimana tidak? Seorang bidadari yang kutunggu dan kurindukan selama ini, sekarang duduk disampingku. Bidadari yang selalu kuinginkan tuk berada di dekatku.

Bidadariku saat itu sungguh anggun. Wajahnya yang selalu bersinar seperti bintang mengganggu keheningan jantungku. Jantungku tak berhenti berdetak! Senyumnya yang menggoda menambah benih-benih cinta antara aku dan dia. Bibirnya yang mempesona menambah jelita raut wajahnya. Aku tak bisa membayangkan, andai sinar purnama mengalihkan cahayanya untuk menyorot raut muka bidadariku ini. Nan indah dan tak lelah tuk dipandang mata. Tidak menjenuhkan. Aku tak sabar menantikan saat-saat memandang lekat-lekat dia. Memperhatikan keindahan bulu matanya.

Dia selalu perhatian padaku. Memerhatikan apa yang aku butuhkan. Hingga kini apa bidadariku lakukan untukku semuanya ikhlas dan murni hanya diberikan padaku. Tak ada kata imbalan di kamusnya. Yang ada hanyalah membuatku senang menuju puncak kebahagiaan. Aku sangat kagum pada bidadariku. Tulus cintanya yang suci membuat hatiku luluh, jatuh dalam keindahan akhlaknya.

Malam itu sangat indah jika aku mengingatnya. Tatkala aku dan bidadariku duduk menikmati hujan cahaya bintang kejora, sebuah tangan yang lembut membelai rambutku. Mengusap-usap dengan santai dan penuh kasih. Menampakkan keceriaannya terbungkus dengan kasih sayang.

Aku ingat ketika dahulu aku selalu bersamanya, rasa cinta yang diberikan padaku melebihi malam itu. Kecupan dikeningku menjadi tanda cinta selain rambut dibelai dengan tangan lembutnya. Dan seolah kecupan itu adalah keharusan untuk menyatakan kasih sayang. Namun kusadari sekarang, meski bidadariku segan untuk mencium keningku tapi aku merasakan cintanya tak berubah kepadaku. Hanya saja sekarang dengan belaian rambut pun aku sudah mengerti itulah tanda cinta yang ingin digambarkan padaku. Rasa cinta seorang bidadari yang menginginkan aku bahagia. Bidadariku pun pasti merasakan kebagiaanku jika aku bahagia.

Malam itu aku ingin sekali mengatakan,“Aku cinta padamu Bidadari”. Namun aku ini hanyalah seorang lelaki pemalu. Kata-kata itu hanya sampai pada tenggorokanku selebihnya kembali lagi ke dalam perasaan. Biarlah kata itu kupendam hingga aku menunggu saat yang tepat untuk mengeluarkannya dari belunggu lidahku. Kata yang selalu kusimpan untuknya selamanya. Selalu kuingat hingga tak kunjung waktu habis lamanya. Biarkan waktu yang bicara.

Sebentar, aku ingin memperhatikan bidadariku dulu. Sepertinya ada yang ingin diungkapkan kepadaku. Kata cinta, mutiara cinta aku menganggapnya sebuah kata yang keluar dari mulutnya adalah perasaan cinta. Belaian di rambutku perlahan terlepas dan bidadariku meletakkan kedua tangannya di atas paha. Seperti biasanya bidadariku melipat perlahan jari-jari lentiknya untuk menghilangkan rasa keheningaan. Sorot matanya kini sedang memperhatikan jari-jari yang dilipaatnya. Seolah-olah jari-jari itu menari untuk merasakan indahnya malam. Kepala bidadari itu menunduk sebentar. Tak berapa lama kemudian mengangakat wajahnya dan melemparkan pandangan mata kepadaku. Dan akhirnya bidadariku tersenyum elegan kepadaku.

Bibirnya seolah terbuka sedikit guna berbicara padaku. Dan pada saat itu aku senang memperhatikan bidadariku akan bicara. Itulah salah satu kelembutannya.
“Sayangku, lihatlah sekelilingmu. Bulan tersenyum, bintang berkelap-kelip ditemani sang gelap. Indah bukan? Bagaimana perasaanmu bertemu denganku,” kata bidadariku.
“Aku melihat malam ini bermandikan cahaya. Dan cahaya itu jatuh tepat dihadapanku memantulkan sinar yang cemerlang. Begitulah gambaran hatiku bertemu dengan ibu.”
“Syukurlah anakku. Ibu akan selalu merasakan kebahagiaanmu selamanya. Ibu senang jika engkau bahagia. Tak ada imbalan terbaik yang ibu lakukan selama ini kepadamu selain kebahagiannmu.”

Aku terdiam sejenak. Berpikir sesaat. Sungguh kata yang indah keluar dari mulut yang indah. Membesarkan perasaanku saat itu.
“Andai aku bahagia, semuanya hanya untuk ibu. Ibu yang selalu mengerti tentang aku, meski aku kadang merasakan ibu mencampuri urusanku. Tapi aku sadar sekarang, engkau melakukan itu untuk kebaikanku. Terima kasih ibu, Aku cinta padamu.” (Wow, akhirnya kata mutiara cinta itu keluar dari lidahku yang rapat. Rasa malu yang ingin aku pecah kini telah sirna. Tak ada kata malu untuk mengucap terima kasih dan cinta untuk ibu. Kurasakan saat itu hatiku bahagia setengah hidup.)
“Jangan kau berikan semua kebahagiannmu untuk ibu. Simpanlah kebahagiaanmu untuk istri dan anakmu kelak jika kamu sudah punya. Ibu cukup merasakan kebahagiaanmu pun sudah merasa bahagia. Ibu tidak perlu mencicipi kebahagiaanmu karena ibu sudah bisa merasakannya.”

Tak kuat air mata ini ini menahan rasa haru mendengar kata-kata ibu. Sungguhkan besar hati perempuan bernama bidadari itu kepadaku? Bahkan hanya dengan merasakan pun sudah bisa ambil bagian. Luluh air mata ini mengalir membentuk sungi kecil di sela-sela pipiku yang mungil ini.
“Nggih Bu,” Jawabku.
“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kuliahmu di sana,” kata ibu dengan penuh harap.
“Alhamdulilah lancar. Doanya saja dari Ibu. Insya Allah dalam waktu dekat wisuda. Mohon restu dari ibu.”
“Ya, Ibu hanya bisa mendoakan buat kamu. Ibu merestui. Andaikan setelah ini kamu ingin meneruskan kuliah, ibu tambah bahagia. Sekarang kamu sudah kuliah jauh Le, untuk menuntut kebahagian berupa ilmu. Tambahkan kebahagiaanmu dengan kuliah jauh sekalian karena kamu sudah jauh-jauh meninggalkan rumah. Maksud ibu, jika kamu mampu, sekalian saja kuliah di luar negeri,” Kata ibu dengan tersenyum.

Kata itu mengejutkan pembuluh nadiku. Sebelumnya aku tak berpikir kuliah di luar negeri. Kuliah di dalam negeri saja sudah alhamdulilah. Kalau di luar negeri pengen sih, tapi belum kepikiran. Namun harapan ibu itu menjadi sebuah pecut semangat untuk terus mencoba. Apa salahnya ibu menaruh cita-cita kepadaku? Dan aku ingin mewujudkannya suatu saat nanti.
“Insya Allah Ta’ala jika ibu meridloi, saya akan mewujudkannya. Meski saya juga ingin kuliah di luar negeri. Tapi semuanya tetap atas ridlonipun panjenengan,” kataku.
“Semoga Allah Ta’ala memberikan jalan untukmu Le, ibu doakan.”

Aku tak menyangka wajah ibu berseri-seri saat itu. Tak pernah kurasakan dan kulihat wajah seindah itu. Sebuah wajah penuh harap dari seorang bidadari tanpa benci. Hanya ada perasaan cinta. Sebuah semangat pun kini membara dan bersemayam di hati kecilku. Tak boleh aku mengecewakan harapan bidadariku.

Oh, Bidadari… Cintamu begitu sempurna kurasakan. Sangat indah. Malam itu sangat indah. Bertabur cinta yang indah dan penuh kasih sayang. Luluh air mataku tak percuma kujatuhkan di atas bumi Indonesia. Masih berharga ternyata. Seorang Ibu di bumi ini adalah bidadari.

“Malam Pertama”

Ketika seorang insan berada di peraduan
Mengenakan gaun-gaun indah baginya
Dan setelah ijab qabul diucapkan
Halal sekarang buatnya

Malam pertama
Akankah mengasyikkan?
Gaun yang dikenakan bercorak bersih
Berwarna putih
Bermandikan parfum nan harum
Digiring dengan kereta kencana
Tak beroda

Malam pertama
Akankah menggoda?
Ijab qabul itu talqinnya
Dua syahadat jadi kuncinya
Tatkala di ranjang pengantin
Hanya ada ruang indah bernama gelap
Dihiasi dengan gundukan tanah

Pasangan pengantin telah siap
Menanyakan amal kebaikan
Siapakah Tuhanmu
Siapakah Rasulmu
Bertubi kata cinta merayu

Malam pertama
Di ruang itu
Penuh pesona jiwa
Tatkala harta tak dibawa
Dan keluarga tak bisa diajak bicara
Sunyi meraba
Hitam terasa
Amal baik penunggu jiwa
Anak sholeh penghilang derita

Malam pertama
Di kegelapan
Akankah bisa sirna begitu saja?
Jika sudah lewat waktu
Ulat-ulat mulai mencium
Harum badan menjadi uap
Gagah badan menjadi asap

Oh… Malam pertama
Andai cahaya itu tiba
Hati menjadi rindu
Ranjang pengantin menjadi nyaman
Tak kan ada gelap di qolbu
Menunggu kemenangan

radenfaletehan.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s